Berhaji itu Kenangan Indah
Berhaji adalah dambaan setiap muslim, karena berhaji merupakan puncak dari pelaksanaan rukun islam yang kelima, terbukti setiap orang selalu merindukan pergi ke tanah suci untuk beribadah di masjidil haram Mekah, di sini kita bisa melakukan peribadatan yang tidak mungkin dikerjakan di negeri sendiri yakni thawaf (mengelilingi ka’bah) di Baitulloh.
Hal lain yang bisa kita ni’mati di masjidil haram Mekah kita bisa meresapi dan merenungi perjuangan para nabi dan rasul Allah serta para pendahulu kita yang telah berjuang demi tegak dan tersebarnya kalimatulloh di seluruh pelosok dunia fana ini.
Kisah legendaris keikhlasan keluarga nabiyulloh Ibrahim a.s., kesabaran ibunda Hajar, ketaatan nabiyulloh Ismail a.s. dan totalitas perjuangan, pembelaan, pembinaan tauhid serta pengorbanan khotimul anbiya Muhammad Saw., serta kisah kepahlawanan lainnya yang berlangsung di sekitar masjidil haram Mekah.
Di Madinah kita pun bisa merefleksi perjuangan nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya sebagai puncak keemasan sejarah umat manusia yakni bersatunya (ikatan ukhuwwah) dua kabilah yang sangat menentukan sejarah bangsa arab saat itu yaitu Aus dan Khazraj serta kisah kebersamaan kaum Anshor dan Muhajirin yang memiliki kontribusi tak terhingga dalam perjuangan da’wah li’ilaaikalimatillah. Bahkan bisa jadi, kita bisa menunaikan ibadah haji ini karena kontribusi mereka dalam catatan sejarah islam yang gemilang.
Singkatnya, hampir bisa dipastikan bahwa setiap penziarah akan menemukan suasana yang sangat berbeda dari biasanya tatkala shalat lima waktu dilakukan di depan ka’bah, melaksanakan thawaf, sa’i, mabit di Mina, Wukuf di Arafah, dan ibadah lainnya sampai tidak sedikit orang ketagihan dan selalu merindukan perjumpaan kembali serta terulangnya pelaksanaan ibadah haji di tahun berikutnya.
Berhaji Itu Perjuangan
Naluri manusia pada dasarnya siap berkorban. Apapun akan ditempuh demi mewujudnya asa dan tercapainya sebuah pengharapan dalam perjalanan hidupnya. Begitupun setiap kita tatkala niat semakin menguat dan kerinduan mencapai puncaknya, bayang-bayang baitulloh begitu dekat di depan mata, maka kita pun melangkah untuk meraihnya. Mulailah kita menyisihkan sebagian harta untuk ditabung, olah raga pun dirutinkan demi menjaga kebugaran tubuh bahkan dengan penuh kesabaran kita lalui beberapa prosedur dan syarat administrasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk setiap calon jemaah haji.
Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah kita pun mulai meningkatkan wawasan dan keilmuan kita tentang prosesi ibadah haji seperti yang dicontohkan Rasululloh Saw dengan para sahabatnya. Berbagai sumber informasi kita tampung, macam-macam buku haji kita baca habis, seminar dan pengajian tentang haji kita ikuti bahkan dengan penuh semangat kita ikuti secara rutin bimbingan manasik haji dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang kita pilih, subhanallah.
Waktu pun tiba, saatnya kita harus segera meninggalkan tanah air dengan segala kenangan dan kesenangannya. Anak, saudara, orang tua, famili dan tetangga kita tinggalkan untuk sementara waktu kita beribadah di tanah suci dengan bekal ilmu dan pengetahuan tentang ibadah haji yang sesuai dengan contoh Rasulullah Saw.
Dalam pelaksanaan ibadah haji ini tentunya tidak cukup hanya berbekal ilmu dan materi semata. Kita bersama teman-teman lain yang bergabung dalam satu KBIH dengan berbagai latar belakang keilmuan/pendidikan, sosial dan pekerjaan, menuntut kita untuk ekstra hati-hati, bersabar dan mau untuk memahami orang lain yang ada di sekitar kita.
Di lapangan, kita harus berlapang dada tatkala ada saatnya kita harus ngantri dalam segalanya ; saat thawaf, mencium hajar aswad, shalat di hijr ismail, melempar jamarat bahkan saat kita menunggu bagian makan siang ataupun ngantri di toilet yang semua itu kalau tidak dijalani dengan sabar dan penuh pengertian akan mengundang perdebatan, rebutan bahkan pertengkaran antara sesame jemaah haji. Padahal, wahai umat manusia, calon jemaah haji, bukankah Allah SWT telah mengingatkan kepada kita semua bahwasanya pelaksanaan ibadah haji itu dibatasi pada bulan-bulan tertentu, maka siapapun yang mendapatkan giliran untuk menunaikan ibadah haji pada bulan tersebut dilarang keras untuk melakukan rafats (perkataan dan perbuatan yang kotor dan menjijikkan), fusuq (perbuatan dosa dan melanggar aturan Allah SWT) dan jidal (berselisih dan bertengkar) (QS: nnnnn).na’udzu billah.
Ada satu hal yang sering kali terlupakan atau mungkin dengan sengaja kita melupakan bahkan melanggar sesuatu yang telah ditetapkan dalam pelaksanaan ibadah haji, yakni contoh Rasulullah Saw dalam berhaji.
Kita begitu bangga tatkala ibadah telah ditunaikan dan kewajiban terlaksana dengan lancar. Tak peduli sesuai ataukah tidak dengan yang disyariatkan, yang pasti kita telah mengubah status hidup kita menjadi seorang Bapak H. dan atau Ibu Hj.
Kita begitu optimis dengan kabar gembira dari Rasulullah Saw. bahwa jaminan haji mabrur itu adalah surga, tanpa memperhatikan kesempurnaan pelaksanaan ibadah haji kita baik rukun ataupun syaratnya. Jaminan apa yang bisa kita pegang bahwa ibadah haji ini kita tunaikan sesuai dengan tuntunan syariat Islam ??
Sekali lagi berhaji adalah perjuangan dalam segala hal termasuk menundukkan akal dan nafsu kita untuk taat, patuh dan siap dengan segala aturan serta tatacara pelaksanaan ibadah haji yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. kepada para sahabatnya. Dahulukanlah tuntunan syariat daripada tuntutan emosi dan akal, ambillah ajaran Rasulullah daripada contoh si tokoh, pertajamlah keikhlasan, jauhi pujian, raih kemenangan, surga Allah jannatunna’im, insya Allah.
Meneladani Rasulullah dalam Berhaji
Banyak hal yang telah kita, calon jemaah haji lakukan. Mulai persiapan materi, bekal ilmu, mental bahkan kita lakukan hal-hal yang di luar kebiasaan kita. Begitu mahal harga yang harus kita tunaikan demi sebuah perjuangan dan prosesi ibadah haji. Namun, kita pun begitu ceroboh dan tidak terlalu peduli dengan syariat (aturan Islam) dalam ibadah haji. Sehingga sia-sialah usaha dan pengorbanan kita, harapan mendapatkan surga Allah kandas dengan penyesalan dan bermuara di ujung siksaNya, karena kita telah menyekutukanNya dengan akal, pikiran, emosi, nafsu, ilmu dan materi yang kita miliki.
Rasulullah Saw. sudah sejak lama mencontohkan pelaksanaan ibadah haji kepada umatnya. Lewat perkataannya (hadits) yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa rangkaian ibadah haji itu adalah sebagai berikut :
1. tanggal 8 Dzulhijjah, memulai ihrom haji dengan segala kewajiban dan larangannya, dari tempat kita tinggal dengan melafalkan niat ‘labbaikallohumma hajjan’ yang dilanjutkan dengan Mabit di Mina sampai subuh tanggal 9 Dzulhijjah.
2. tanggal 9 Dzulhijjah pagi, kita berangkat dari Mina menuju Arafah untuk wukuf dari tergelincir sampai terbenamnya matahari dan sebelum maghrib tiba, kita harus sudah meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit sampai subuh tanggal 10 Dzulhijjah.
3. tanggal 10 Dzulhijjah pagi, kita siap-siap menuju Mina untuk melaksanakan lempar jumroh aqobah yang waktunya dimulai dari waktu dhuha (lk. Pukul 08.30 WSA) sampai selesai, kemudian memotong rambut yang bisa dilanjutkan dengan thawaf ifadoh dan sa’i haji (tahallul awal)[1] terus memotong hadyu[2] atau sebaliknya,[3].
4. tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah kalau mengambil nafar awal[4] atau sampai tanggal 13 Dzulhijjah kalau nafar tsani[5], kita melaksanakan lempar jumroh ula, wustho dan aqobah, masing-masing tujuh kali lemparan dari ba’da duhur sampai selesai.
5. kalau semua kewajiban di atas sudah ditunaikan, maka kita sudah masuk tahallul tsani[6].
6. melaksanakan thawaf wada’ sebelum meninggalkan kota Mekah dan sebagai pertanda akhir dari aktivitas kita di Masjidil Haram Mekah.
Bagi jemaah haji dari Indonesia termasuk kita yang mayoritas melaksanakan ibadah hajinya secara tamattu’ [7] perlu memperhatikan proses ibadah umroh berikut ini :
1. membersihkan seluruh badan, memotong rambut dan kuku serta mengenakan pakaian ihrom dengan wewangian.
2. karena jalur miqot[8] yang dilalui dari Indonesia via udara adalah Qornul manazil, maka seluruh jemaah haji Indonesia dianjurkan melaksanakan ihrom umroh di atas wilayah tersebut dengan melafalkan niat umroh ‘labbaikallohumma umrotan’
3. setelah niat umroh diucapkan, maka perbanyaklah talbiyah[9], tilawah al Quran atau dikir yang lainnya
4. setelah tiba di penginapan (maktab) dan cukup istirahat, segerakanlah melaksanakan thawaf umroh dan sa’I, masing-masing sebanyak tujuh keliling kemudian cukur rambut dan tahallul, selesailah pelaksanaan ibadah umroh.
5. sambil menunggu tanggal 8 Dzulhijjah, maka setiap jamaah haji dianjurkan memperbanyak do’a, tilawah al Quran serta ibadah lainnya yang tidak bisa dilakukan di tanah air seperti thawaf sunnah.
Kiat Meraih Haji Mabrur
1. luruskan niat dan teguhkan hati dalam melaksanakan aktivitas ibadah haji.
2. menjadikan praktek haji Rasulullah Saw. sebagai panduan ibadah.
3. persiapan yang matang baik secara mental (ruhani), fisik (tubuh) ataupun dan perbekalan ilmu dan pengetahuan serta perlengkapan untuk di lapangan dan pastikan semua persiapan itu dari sumber yang halal.
4. mengoptimalkan waktu luang dengan berbagai aktivitas nafilah : thawaf, dzikir, berdo’a, tilawah al Quran, saling bertaushiyah, qiyamul lail, infaq-shodaqoh dll.
5. meninggalkan aktivitas yang menyia-nyiakan waktu dan terlarang : berkata-kata kotor, berselisih/bertengkar, menggunjing, mengadu domba/memfitnah, ngrumpi dll.
6. selalu rendah hati di hadapan manusia dan merendahkan diri di hadapan Allah.
maksimalkan usaha dan bertawakallah kepada Allah SWT.[1]) semua larangan ihrom sudah halal kembali kecuali hubungan badan suami istri
[2]) waktu memotong hadyu dari tanggal 10 s/d 13 Dzulhijjah
[3]) memotong hadyu dulu kemudian thawaf ifadoh dan sa’i haji
[4]) mengakhiri mabit dan keluar dari mina menuju Mekah pada tanggal 12 Dzulhijjah sebelum masuk waktu maghrib.
[5]) mengakhiri mabit dan keluar dari mina menuju Mekah pada tanggal 13 Dzulhijjah
[6]) semua larangan ihrom termasuk hubungan badan suami istri sudah halal kembali.
[7]) melaksanakan ibadah umroh terlebih dahulu kemudian ibadah haji
[8]) miqot adalah tempat-tempat yang ditentukan oleh Rasulullah Saw untuk memulai ihrom umroh
[9]) doa yang berbunyi : labbaikallohumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka wal mulk laa syariika lak.







